Internasional

Bela Perlawanan Palestina, Erdogan Menyuarakan Kecaman Terhadap Rencana Israel Untuk Zona Penyangga Di Gaza

Avatar of Candra Wahyuda
645
×

Bela Perlawanan Palestina, Erdogan Menyuarakan Kecaman Terhadap Rencana Israel Untuk Zona Penyangga Di Gaza

Sebarkan artikel ini
Bela Perlawanan Palestina, Erdogan Menyuarakan Kecaman Terhadap Rencana Israel Untuk Zona Penyangga Di Gaza

Betang.id – Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, secara tegas mengecam upaya Israel untuk menciptakan zona penyangga tanpa keprajuritan di wilayah Gaza. Erdogan menyatakan bahwa mengusulkan ide semacam itu tidak menghormati hak-hak rakyat Palestina.

Menurut Erdogan, masa depan Gaza seharusnya ditentukan oleh rakyat Palestina sendiri, dan ia mendukung Hamas sebagai kekuatan perlawanan yang sah. Erdogan juga memberikan peringatan keras kepada Israel, melarangnya mengejar anggota Hamas di wilayah Turki dengan ancaman konsekuensi serius.

“Mereka akan membayar harga yang tinggi jika melakukan tindakan semacam itu,” ujar Erdogan pada Rabu (6/12/2023), seperti dilansir oleh Al Jazeera.

Erdogan, yang telah menjadi kritikus Israel yang gigih sejak pecahnya konflik di Gaza, kini menghadapi rencana Israel untuk menciptakan zona penyangga di sepanjang Jalur Gaza. Rencana tersebut dilaporkan bertujuan untuk mencegah serangan dari pihak Palestina setelah konflik berakhir.

Israel telah berkomunikasi dengan negara-negara tetangganya, termasuk Mesir, Yordania, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Turki, mengenai niat mereka untuk menciptakan zona penyangga tersebut. Seorang sumber menyatakan bahwa Israel berkeinginan untuk menjaga jarak antara Gaza dan Israel, dari utara hingga selatan, untuk menghindari penyusupan atau serangan dari pihak seperti Hamas.

Dalam perkembangan terkait, dua sumber keamanan Mesir yang tidak ingin disebutkan namanya mengungkapkan bahwa gagasan ini diajukan oleh Israel selama perundingan gencatan senjata dengan Mesir dan Qatar. Namun, laporan tersebut juga mencatat bahwa pejabat Arab mengungkapkan keberatan terhadap rencana tersebut.

Di tengah-tengah ketegangan ini, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah memberi tahu Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, bahwa Israel berencana membangun zona penyangga di dalam wilayah Gaza pada Kamis (30/11/2023). Meskipun Israel berniat mempertahankan kendali keamanan di Gaza pasca-perang, AS dan beberapa negara Arab menolak keras pengurangan wilayah Palestina di Gaza.

Presiden AS, Joe Biden, telah menyerukan Otoritas Palestina yang direvitalisasi untuk mengambil alih kendali di wilayah tersebut setelah konflik, dengan tujuan mencapai solusi dua negara. Sementara itu, Netanyahu menunjukkan ketidakpastian terkait apakah Otoritas Palestina akan kembali mengendalikan Gaza.

Dalam tanggapannya, Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih, John Kirby, dengan tegas menyatakan penolakan terhadap pengurangan wilayah Gaza. “Kami menentang pengurangan batas geografis Gaza. Gaza harus tetap menjadi bagian dari tanah Palestina dan tidak boleh dikurangi,” kata Kirby dalam konferensi pers pada Jumat (1/12/2023).

Sementara itu, situasi di lapangan terus memanas, dengan tank tentara Israel dikabarkan bergerak menuju pusat kota Khan Younis setelah malam penembakan artileri dan bentrokan di sekitar Gaza. Pelapor khusus PBB menyoroti perlunya menghentikan pembantaian warga sipil di tengah lonjakan jumlah warga Palestina yang membutuhkan perawatan darurat di rumah sakit Gaza.

Pejabat senior Hamas juga menegaskan bahwa tidak akan ada negosiasi dengan Israel kecuali Israel menghentikan serangan di Gaza. Hingga saat ini, konflik ini telah menelan korban sebanyak 16.248 warga Palestina di Gaza sejak 7 Oktober 2023, sementara di pihak Israel, jumlah korban tewas resmi mencapai sekitar 1.200 orang.